Senin, 30 Juni 2014

ANALISIS PERSEPSI LAYANAN MOBILE BANKING TERHADAP PENGGUNA KHUSUSUNYA BANK BCA CABANG KELAPA DUA



Lembaga keuangan Bank adalah suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali pada masyarakat dalam bentuk kredit atau dalam bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak (Azhar Maulana dan Septian K.W). Di era informasi ini, lembaga keuangan (bank) memberikan layanannya tidak hanya melalui model-model konvensional saja tetapi sudah beralih pada pemanfaatan teknologi informasi. Bukan suatu rahasia lagi jika peran perbankan menjadi tulang punggung perekonomian bangsa, dan terciptanya kesuksesan kinerja bank juga tidak lepas dari dukungan telekomunikasi. Selain sistem komunikasi kabel yang mutlak dibutuhkan, komunikasi berbasis selular nyatanya telah memberi peran yang cukup penting bagi setiap kalangan. Tidak hanya membangun suatu image perbankan, melainkan operator selular juga ikut merasakan betapa besar potensi yang dapat diraih dari sektor m-banking.
Mobile banking yang juga dikenal sebagai M-Banking, SMS Banking dan lain-lain merupakan istilah yang digunakan untuk melakukan cek saldo, rekening transaksi, dan pembayaran melalui perangkat mobile seperti ponsel. Gejala M-banking pun saat ini telah meningkat dari hari ke hari. Pengguna yang pada awalnya didominasi oleh kaum pebisnis, kini juga telah banyak digunakan oleh kalangan muda. Ini menunjukkan bahwa karena penggunaanya mudah sehingga setiap kalangan dapat menggunakan M-Banking tersebut. Mobile Banking (biasa dikenal dengan M-Banking) adalah suatu istilah yang digunakan untuk melakukan check saldo, transaksi, pembayaran dan sebagainya melalui sarana perangkat seluler. Salah satu pengguna mobile banking adalah consumer bank. Kelebihan sistem manajemen perbankan berbasis komputer sangat praktis, mudah dan cepat. Sistem ini juga sangat mudah digunakan oleh banyak pihak baik pihak administrasi, manajemen, maupun para karyawan.
Sehingga dapat dilihat bahwa m-banking memberikan banyak keuntungan bagi semua kalangan, baik bagi bank, operator seluler maupun bagi para nasabah pengguna m-banking. Dengan uraian di atas, maka penelitian ini dimaksudkan dapat mengidentifikasi peranan/manfaat mobile banking terhadap pengguna dalam menggunakan teknologi informasi mobile banking. Oleh karena itu judul yang diambil dalam penelitian ini adalah: “Analisis Persepsi  terhadap penggunaan Mobile Banking khususnya di Bank BCA Kelapa Dua”.


Dalam penulisan ini, penulis hanya membatasi hanya berkisar pada manfaat dan dampak positif dari penggunaan mobile banking terhadap pengguna khususnya para nasabah di Bank BCA.


Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam kajian ini :
1.      Apa saja keuntungan yang didapat dari penggunaan Mobile Banking.
2.      Adakah dampak positif yang ditimbulkan dari penggunaan layanan Mobile Banking.
3.      Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai keuntungan layanan M-Banking, khususnya pada Bank BCA.


            Penulis menggunakan teknik kuesioner. Angket (kuesioner) adalah usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan untuk dijawab secara tertulis oleh responden. Metode ini untuk mengetahui bagaimana persepsi responden terhadap layanan M-Banking.
 



1.5       Sistematika Penulisan
 1. PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.
2. LANDASAN TEORI
Berisi tentang pengertian E-Banking, Mobile Banking dan teori Technology Acceptance Model (TAM).
3. PEMBAHASAN
Berisi tentang gambaran umum obyek penelitian dan pembahasan dari keutungan dan dampak positif yang didapat dari layanan Mobile Banking.
4. PENUTUP
Pada bagian ini merupakan rangkaian dari penelitian yang terdiri dari Kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.





2. LANDASAN TEORI


2.1       E-Banking
Menurut Maryanto Supriyono (2010:65) kemajuan pesat teknologi komputer baik perangkat keras, perangkat lunak, sistem host to host, sistem jaringan dan komunikasi data memberikan dampak yang luar biasa kepada jasa perbankan secara elektronik. Perkembangan E-Banking mengalami lompatan besar, transaksi bank menjadi mudah, cepat dan real time tanpa ada batasan waktu dan tempat. Bank menyediakan layanan Electronic Banking atau E-Banking untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan nasabah sebagai alternatif media untuk melakukan transaksi perbankan, tanpa nasabah datang ke bank atau ke ATM. Kecuali untuk transaksi setoran dan tarikan uang tunai.
Gambaran yang mudah dimengerti tentang E-Banking sebagai illustrasinya adalah: “Meja teller/customer service seolah-olah berpindah ke tempat nasabah, di mana nasabah pulalah sebagai teller/customer servicenya”, atau tangan Teller/customer service berada di tangan nasabah. Nasabah dapat bebas melakukan transaksi apa saja selama ada pada menu transaksi. Transaksi yang dapat dilakukan tampil dalam bentuk menu transaksi atau daftar transaksi, di luar menu tersebut tidak dapat dilakukan.
E-banking meliputi Mobile Banking, Online Banking (Core System), Phone Banking, Bank Card (Smart Card, Credit Card, Debit Card, Private Label Card, dan Charge Card), dan I-Banking.

2.2       Mobile Banking
MBG (Mobile Banking GPRS) adalah fasilitas layanan dalam pemberian kemudahan akses maupun kecepatan dalam memperoleh informasi terkini dan transaksi finansial secara real time. MBG dapat diakses oleh nasabah perorangan melalui ponsel yang memiliki teknologi GPRS. Produk layanan BSM mobile banking adalah saluran distribusi bank untuk mengakses rekening yang dimiliki nasabah melalui teknologi GPRS dengan sarana telepon seluler (ponsel).
GPRS (General Package Radio Services) adalah teknologi penyampaian data melalui ponsel. Teknologi ini lebih maju dibandingkan dengan teknologi SMS dimana data yang dapat dikirim tidak hanya berbentuk pesan singkat tapi juga bisa berupa aplikasi
Teknologi GPRS ini juga telah menjadi kelengkapan fitur layanan para operator telekomunikasi baik yang berbasis GSM. Teknologi GPRS memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan teknologi SMS yaitu:
1.      Dapat digunakan sebagai media untuk mengirim perintah transaksi perbankan
2.      Biaya pulsa pengiriman lebih murah
3.      Data yang dikirim ke bank dapat melalui proses pengkodean terlebih dahulu.
Mobile Banking diluncurkan pertama kali oleh Excelcom pada akhir 1995 dan respon yang didapat juga beragam. Latar belakang dari kemunculan m-banking ini juga disebabkan oleh bank-bank yang saat ini ingin mendapat kepercayaan dari setiap nasabahnya. Dan salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan pemanfaatan teknologi. Peranan teknologi yang bertumbuh dengan pesat, harus dimanfaatkan secara cermat dan tepat. Berbagai teknologi menyediakan terobosan-terobosan baru yang dapat digunakan oleh bank dalam usahanya untuk selalu meningkatkan kualitas layanan yang ada. Sehingga dari situlah bank-bank yang ada di seluruh dunia membuat suatu inovasi baru dengan meluncurkan m-banking. Contohnya di Indonesia, baik bank pemerintah maupun bank swasta nasional berlomba-lomba untuk meluncurkan teknologi m-banking. Bank Central Asia (BCA) misalnya, sebagai salah satu bank swasta nasional terbesar di Indonesia dengan skala jaringan elektronik yang tersebar luas. Bank Central Asia merupakan bank pertama yang meluncurkan sistem m-banking pertama di Indonesia dibandingkan bank-bank lainnya yang biasa disebut juga dengan m-BCA. Proses mbanking sendiri muncul tidak hanya berhubungan dengan bank saja, namun teknologi ini juga bekerja sama dengan operator seluler.

2.3       Metode Pengumpulan Data
Beberapa metode penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dan informasi pelengkap untuk mempermudah analisa dan persepsi nasabah Bank BCA cabang Kelapa Dua.

2.3.1    Sumber Data
Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada.
Contoh data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel, atau juga data hasil wawancara peneliti dengan narasumber. Contoh data sekunder misalnya catatan atau dokumentasi perusahaan berupa absensi, gaji, laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, data yang diperoleh dari majalah, dan lain sebagainya.

2.3.2    Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan.
Jenis sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data diperoleh dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak langsung (data sekunder).
Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi dan sebagainya. Sedangkan instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.  Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, foto dokumentasi dan lainnya. Adapun instrumen pengumpulan data yang penulis gunakan adalah angket/kuesioner (Questionnaires).
Suharsimi Arikunto (2006: 151) menjelaskan angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang diketahui.
Kelebihan metode angket adalah dalam waktu yang relatif singkat dapat memperoleh data yang banyak, tenaga yang diperlukan sedikit dan responden dapat menjawab dengan bebas tanpa pengaruh orang lain. Sedangkan kelemahan angket adalah angket bersifat kaku karena pertanyaan telah ditentukan dan responden tidak memberi jawaban yang sesuai dengan keadaan sebenarnya hanya sekedar membaca kemudian menulis jawabannya.
Angket atau kuesioner menurut Suharsimi Arikunto (2006: 152) dapat dibedakan atas beberapa jenis tergantung pada sudut pandangnya:
Dipandang dari cara menjawab, maka ada:
·         Kuesioner terbuka, yang memberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri
·         Kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.
·         Dipandang dari jawaban yang diberikan, maka ada:
·         Kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya
·         Kuesioner tidak langsung, jika responden menjawab tentang orang lain.
·         Dipandang dari bentuknya, maka ada:
·         Kuesioner pilihan ganda, yang dimaksud adalah sama dengan kuesioner    tertutup
·         Kuesioner isian, yang dimaksud adalah kuesioner terbuka
·         Check list, sebuah daftar, dimana responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom yang sesuai
·         Rating-scale (skala bertingkah), yaitu sebuah pertanyaan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkat-tingkatan misalnya mulai dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju.

2.4       Technology Acceptance Model (TAM)
Technology Acceptance Model (TAM), diperkenalkan  pertama kali oleh Fred D. Davis pada tahun 1989. TAM dibuat khusus untuk pemodelan adopsi pengguna sistem informasi. Menurut Davis (1989), tujuan utama TAM adalah untuk mendirikan dasar penelusuran faktor eksternal terhadap kepercayaan, sikap (personalisasi), dan tujuan pengguna komputer. TAM menganggap bahwa dua keyakinan variabel perilaku utama dalam mengadopsi sistem informasi, yaitu kemudahan pengguaan (ease of use) dan manfaat (usefulness). Kedua variabel tersebut dapat  menjelaskan aspek keperilakuan pengguna. Kesimpulannya adalah model TAM dapat menjelaskan bahwa persepsi pengguna akan menentukan sikapnya dalam  penggunaan TI.
Penelitian ini menggunakan 4 (empat) konstruk dari model penelitian TAM, yaitu:
Perceived Usefulness, yaitu persepsi pengguna terhadap manfaat yang diartikan sebagai tingkat dimana seseorang percaya bahwa menggunakan sistem tertentu dapat meningkatkan kinerjanya.
Perceived Ease of Use, yaitu persepsi pengguna terhadap penggunaan yang diartikan sebagai tingkat dimana seseorang percaya bahwa menggunakan sistem tidak perlu usaha apapun (free of effort).
Attitude Toward Using, dikonsepkan sebagai sikap terhadap penggunaan sistem yang berbentuk penerimaan maupun penolakan atau sikap menyatakan apa yang disukai dan tidak.
Actual System Usage, dikonsepkan dalam bentuk pengukuran terhadap frekuensi dan durasi waktu penggunaan teknologi.
Persepsi pengguna terhadap penggunaan juga berpengaruh pada persepsi pengguna terhadap manfaat yang dapat diartikan bahwa jika seseorang merasa sistem tersebut mudah digunakan maka sistem tersebut  berguna bagi mereka.


3. PEMBAHASAN

3.1       Karakteristik Responden
            Data responden dilakukan oleh penulis dari penelitian ini adalah sebanyak 30 responden. Data mengenai karakteristik responden sebagai berikut:
a.      Responden Berdasarkan Usia
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1 Responden Berdasarkan Usia
Usia
Jumlah Responden
Persentase %
26 Tahun
2
6%
27 Tahun
6
20%
28 Tahun
8
27%
>= 30 Tahun
14
47%
Jumlah
30
100%


Keterangan:
Berdasarkan table 3.1 dan gambar grafik diatas dapat disimpulkan bahwa responden yang berusia 26 tahun berjumlah 2 orang atau presentase sebesar 6% dengan warna grafik biru, responden yang berusia 27 tahun berjumlah 6 orang atau presentase sebesar 20% dengan warna grafik merah tua, responden yang berusia 28 tahun berjumlah 8 orang atau presentase sebesar 27% dengan warna grafih hijau, responden yang berusia >= 30 tahun berjumlah 14 orang atau presentase sebesar 47% dengan warna grafik ungu yang memiliki daerah arsir grafik yang paling besar. yang pada bagian besar dari responden itu adalah para pekerja dan pengusaha.

b.      Responden Berdasarkan manfaat Dari Penggunaan M-Banking
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan manfaat dari m-banking, dapat dilihat pada table 3.2 berikut ini:
Table 3.2 Profil Responden Berdasarkan Manfaat 
Manfaat
Jumlah Responden
Responden
Mudah
10
35%
Hemat Waktu
20
65%



Keterangan:
Berdasarkan table 3.2 dan gambar arsir pada grafik dapat disimpulkan bahwa responden yang menyatakan mudah menggunakan m-banking sejumlah 10 orang atau presentase sebesar 35% dengan warna grafik biru dan responden yang menyatakan hemat waktu menggunakan m-banking sejumlah 20 orang atau presentase sebesar 65% dengan warna grafik merah. Jadi dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden menggunakan m-banking dikarenakan hemat waktu sebesar 65 orang.

c.       Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 3.3 berikut ini:


Tabel 3.3 Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Jumlah Responden
Persentase %
Pria
18
63%
Wanita
12
37%
Jumlah
30
100%

 
Keterangan:
Berdasarkan tabel 3.3 dapat diketahui bahwa data yang diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden menunjukan responden yang berjenis kelamin pria sebesar 63%dengan warna grafik biru, dan responden yang berjenis kelamin wanita sebesar 37% dengan warna grafik merah oleh karena itu dapat disimpulkan mayoritas responden dalam penelitian ini adalah pria.sedangkan warna hijau pada grafik adalah jumlah.

d.       Responden Berdasarkan Tahu / Tidak tahu tentang m-banking
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan tahu / tidak tahu tentang m-banking, dapat dilihat pada table 3.4 berikut ini :


Table 3.4 berdasarkan tahu / tidak tahu m-banking
Tahu / Tidak Tentang m-banking
Jumlah Responden
Persentase %
Ya
21
82%
Tidak
9
18%
Jumlah
30
100%

 

Berdasarkan table 3.4 dapat diketahui bahwa reponden yang mengetahui tentang m-banking sejumlah 21 orang atau presentase sebesar 82% dengan  warna grafik biru dan yang tidak mengetahui tentang m-banking sejumlah 9 orang atau presentase sebesar 18%dengan warna grafik merah. Jadi kesimpulannya adalah mayoritas responden sudah mengetahui tentang m-banking.

3.2       Analisa Responden sebagaimana akan menjadi pengguna m-banking dengan pedekatan Technology Acceptance Model (TAM) pada masyarakat di Bank BCA cabang Kelapa Dua
            Pada bagian ini akan diuraikan data tanggapan 30 masyarakat dengan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM). Untuk mendapatkan gambaran responden mengenai m-banking secara menyeluruh, dilakukan rekapiltulasi jumlah skor tanggapan responden berdasarkan indikator pada tabel berikut:

1.      Perceived Usefulness
Perceived usefulness diukur menggunakan tanggapan responden pada pertanyaan yang dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini:
Tabel 3.5 Distribusi Jawaban Responden Mengenai m-banking Menggunakan Ukuran Perceived usefulness

No
Butir Kuesioner
Skor Jawaban Responden
1
2
3
4
5
1
m-Banking akan meningkatkan efektifitas pelayanan kegiatan perbankan
F
1
0
2
27
0
%
3,33
0
6,67
90
0

Keterangan:
Pada butir soal Perceived Usefulness yang ke 1 terdapat soal yang telah dijawab oleh responden dengan soal yang mengarah bahwa m-banking akan memberikan manfaat dengan meningkatkan efektifitas pelayanan perbankan yang memperoleh hasil tertinggi adalah responden dengan menyatakan “setuju”.

2
m-banking akan meningkatkan kinerja pelanan kegiatan perbankan
F
0
2
4
24
0
%
0
6.67
13.33
80
0

Keterangan:
Pada soal di nomer 2 terdapat soal yang mengerahkan persepsi manfaat dari m-banking adalah meningkatkan kinerja pelayanan perbankan.yang sebagian dari responden menjawabnya dengan “Setuju”. Yang mungkin dari kebanyakan responden masih berfikir bahwa bukan hanya teknologi m-banking saja yang bisa meningkatka kinerja pelayanan tetapi masih ada banyak lagi teknologi perbankan yang lainnya.

3
m-banking akan meningkatkan produktifitas dalam pelayanan kegiatan perbankan
F
0
1
5
24
0
%
0
3,33
16,67
80
0

Keterangan:
Persepsi bahwa menyatakan “Setuju” ternyata juga tedapat pada soal apakah m-banking akan meningkatkan produktivitas pelayanan. yang mungkin telah mereka rasakan manfat dari penggunaan mobile banking tersebut.

4
Menurut saya m-banking akan sangat bermanfaat
F
0
0
0
25
5
%
0
0
0
83,33
16,67

Keterangan:
Pada soal point 4 juga masih dalam kategori jawaban dengan persepsi “Setuju”. Yang memang sudah jelas bahwa m-banking akan sangat bermanfaat bagi penggunanya.

Kesimpulan:
Dengan melihat persepsi pengguna dari soal 1 sampai 4 ternyata semua responden menjawab dalam kategori “Setuju” yang paling banyak persentase yang memilih jawaban setuju.



Keterangan:
F = Jumlah Responden                       3 = Ragu-ragu
1 = Sangat Tidak Setuju                     4 = Setuju
2 = Tidak Setuju                                 5 = Sangat Setuju

2.      Perceived Ease of Use
Perceived ease of use diukur menggunakan tanggapan responden pada pertanyaan yang dapat dilihat pada tabel 3.6 berikut ini:
Tabel 3.6 Distribusi Jawaban Responden Mengenai m-banking Menggunakan Ukuran Perceived Ease of Use

No
Butir Kuesioner
Skor Jawaban Responden
1
2
3
4
5
1
m-banking akan mudah dipelajari dan digunakan
F
0
0
0
20
10
%
0
0
0
66,67
33.33

Keterangan:
Pada butir persepsi terhadap kemudahan yang telah di definisikan pada soal kuesioner yang telah dijawab oleh responden dengan nomer soal 1, responden menjawab dengan kategori “Setuju” yang memiliki angka paling tinggi.

2
m-banking akan fleksibel
F
0
0
0
18
12
%
0
0
0
60
40

Keterangan:
Pada soal di nomer 2 responden juga banyak memilih dengan kategori jawaban “Setuju” yang juga memiliki pilihan terbanyak.

3
m-banking akan dapat mengontrol proses administrasi perbankan
F
0
3
5
17
5
%
0
10
16,67
56,67
16.67

Keterangan:
Pada soal ke 3 ini juga banyak responden yang memilih jawaban dengan kategori “Setuju” yang juga memiliki angka paling besar dalam persentase.

Kesimpulan:
Dapat disimpulkan bahwa persepsi pengguna dengan metode Perceived Ease of Use juga banyak yang memilih “Setuju” dalam kemudahan penggunaan m-banking.

Keterangan:
F = Jumlah Responden                       3 = Ragu-ragu
1 = Sangan Tidak Setuju                     4 = Setuju
2 = Tidak Setuju                                 5 = Sangat Setuju

3.      Attitude Toward Using
Attitude toward using diukur menggunakan tanggapan responden pada pertanyaan yang dapat dilihat pada tabel 3.7 berikut ini:
Tabel 3.7 Distribusi Jawaban Responden Mengenai m-banking Menggunakan Ukuran Attitude Toward Using
No
Butir Kuesioner
Skor Jawaban Responden
1
2
3
4
5
1
Saya menyukai menggunakan m-banking
F
0
2
8
20
0
%
0
6,67
26
66,68
0

Keterangan:
Pada Attitude Toward Using juga memiliki nilai tertinggi dalam jawaban “Setuju” yang telah dipilih oleh para responden.

2
Menggunakan m-banking adalah ide yang bagus
F
0
1
10
18
1
%
0
3,4
33,2
60
3,4

Keterangan:
Banyak para responden juga memilih kategori ”Setuju” dalam soal yang memiliki point bahwa menggunakan m-banking adalah ide yang bagus.

3
Menggunakan m-banking adalah ide yang bijaksana
F
0
0
16
13
0
%
0
0
55
45
0

Keterangan:
Pada soal ke 3 ternyata lebih banyak responden yang memilih jawaban “Ragu-ragu” karena masih banyak teknologi perbankan lainnya yang sabnggup bersaing.

4
Penggunaan m-banking dinilai perlu
F
0
0
0
0
30
%
0
0
0
0
100

Keterangan:
Pada soal ini cukup mencenagkan karena semua responden menjawab bahwa penggunaan m-banking perlu untuk digunakan karena untuk penunjang dalam kegiatan berbisnis, bekerja, dan lain-lain.

 Kesimpulan:
Pada Attitude Toward Using setelah dihitung ternyata responden masih berada dalam kategori “setuju” yang berati tidak menutup kemungkinan bahwa teknologi m-banking sangat bermanfaat.

Keterangan:
F = Jumlah Responden                       3 = Ragu-ragu
1 = Sangan Tidak Setuju                     4 = Setuju
2 = Tidak Setuju                                 5 = Sangat Setuju

4.      Actual Use
Actual usage diukur menggunakan tanggapan responden pada pertanyaan yang dapat dilihat pada tabel 3.8 berikut ini:
Tabel 3.8 Distribusi Jawaban Responden Mengenai m-banking Menggunakan Ukuran Actual Usage
1
Saya berniat akan menggunakan m-banking lebih sering dari mendatangi langsung bank untuk melakukan proses transaksi
F
0
1
24
18
1
%
0
2,85
55,4
40
2,85

Keterangan:
Pada  Actual Usage dapat disimpulkan bahwa para responden dengan penuh memiliki niat untuk menggunakan m-banking lebih sering dibanding datang langsung ke bank, karena untuk mempersingkat waktu dalam kemudahan yang telah tersedia dalam fitur m-banking.
Kesimpulan:
Kategori jawaban “setuju” masih dominan hingga actual usage.


4. PENUTUP

4.1       KESIMPULAN
            Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis dikalangan masyarakat sekitar Kelapa Dua terhadap keigintahuan dan antusias untuk menggunakan m-Banking dengan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM), sejauh ini masyarakat sudah banyak yang mengetahui tentang kemunculan m-banking dan cara untuk menggunakan aplikasi tersebut di telpon seluler mereka.

4.2       SARAN
            Dari hasil penelitian yang telah dilakukan penulis, walaupun banyak masyarakat yang sudah mengetahui m-banking tetapi penulis hanya mengambil sampel sebanyak 30 responden. Namun tidak menutup kemungkinan aplikasi tersebut untuk masa yang akan datang harus lebih diketahui masyarakat luas supaya transaksi yang dilakukan akan lebih mudah,.
 



DAFTAR PUSTAKA





 


Sabtu, 25 Januari 2014

TUGAS 4.4 JELASKAN SIKLUS KEUANGAN

siklus keuangan


Akuntansi pada dasarnya terdiri dari tiga proses aktivitas, yaitu : mengidentifikasi, mencatat dan mengkomunikasikan kejadian ekonomi dari sebuah organisasi atau perusahaan. Proses pertama adalah identifikasi, yaitu aktivitas memilih kegiatan yang termasuk kegiatan ekonomi. Proses kedua adalah pencatatan, yaitu semua kejadian ekonomi tersebut dicatat untuk menyediakan sejarah dari kegiatan keuangan dari organisasi tersebut. Proses ketiga adalah komunikasi, yaitu informasi yang telah didapat dari identifikasi dan pencatatan tidak akan berguna bila tidak dikomunikasikan, informasi ini dikomunikasikan melalui persiapan dan distribusi dari laporan akuntansi, yang paling umum disebut laporan keuangan.Siklus akuntansi adalah tahapan kegiatan yang dilalui dalam melaksanakan kegiatan akuntansi. Proses tersebut berjalan terus menerus dan berulang kembali sehingga merupakan suatu siklus








Siklus Akuntansi DEFINISI AKUNTANSI Definisi akuntansi dapat dilihat dari 2 (dua) sudut pandang yaitu: Fungsi dan Kegunaan, Akuntansi merupakan aktivitas jasa yang berfungsi memberikan informasi kuantitatif mengenai kesatuan-kesatuan ekonomi terutama yang bersifat keuangan yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan.

Proses Kegiatan, Akuntansi adalah seni mencatat, mengklasifikasi dan mengikhtisarkan transaksi-ttransaksi kejadian yang sekurang-kurangnya atau sebagaian bersifat keuangan dengan cara menginterpretasikan hasil-hasilnya. Akuntansi dan Tata Buku Akuntansi lebih luas dari Tata Buku sebab Tata Buku hanyalah pencatatan secara sistimatis transaksi/kejadian yang dinyatakan dengan nilai uang.

Berdasar gambar di atas dapat kita uraikan bahwa siklus akuntansi adalah sebagai berikut:
Pencatatan Data ke dalam dokumen sumber/bukti transaksi.
Penjurnalan, yaitu menganalisis dan mencatat transaksi dalam jurnal (buku harian)
Melakukan posting ke Buku Besar yaitu memindahkan debet dan kredit dari jurnal ke akun Buku Besar.
Penyusunan Neraca Saldo yaitu menyiapkan Neraca Saldo unttuk mengecek keseimbangan Buku Besar.
Membuat ayat jurnal penyesuaian dan memasukkan jumlahya pada Neraca Saldo.
Membuat ayat-ayat penutup yaitu menjurnal dan memindahbukukan ayat-ayat penutup.
Penyusunan Laporan Keuangan yaitu Laporan Rugi Laba, Laporaan Perubahan Modal dan Neraca.



TUGAS 4.3 JELASKAN SIKLUS PRODUKSI

Siklus Produksi

Siklus produksi berkaitan erat dengan sub sistem yang lain. Hubungan anatara sistem produksi dan sub sistem lainnya secara komprehensif di uraikan pada gambar 6.1.


Perancangan produk merupakan tahap awal dari sistem ptoduksi. Tujuan aktivitas ini adalah untuk merancang sebuah produk yang memenuhi keinginan konsumen dalam hal kualitas, lama pengerjaan, dan biaya produksi yang rendah. Dokumen yang dihasilkan dari aktivitas produksi adalah :
1.    Daftar kebutuhan bahan (bill of material), yang berisi rincian bahan baku baik spesifikasi, kode, nama, dan kuantitas setiap jenis bahan baku yang akan digunakan dalam produksi.
2.    Daftar kegiatan (operating list/routing sheet) yang merupakan tenaga kerja dan persyaratan mesin yang akan digunakan untuk membuat produk. Dokumen ini juga menguraikan secara rinci tahap-tahap yang diperlukan untuk membuat produk.

Tahap kedua dari sistem produksi adalah membuat perencanaan dan penjadwalan produksi. Tujuan dilakukannya tahap ini adalah produksi dilakukan seefisien mungkin untuk memenuhi pesanan yang ada dan kemungkinan permintaan jangka pendek tanpa menghasilkan jumlah produk yang berlebih. Untuk membuat rencana produksi, tersedia 2 metode yang umum dipakai, yaitu:
1.    Perencanaan sumber daya manufukur (manufacturing resource palnning/MRP-II). Metode ini merupakan metode yang mencari keseimbangan antara kapasitas produksi yang saat ini dimiliki perusahaan dan kebutuhan bahan baku untuk memenuhi permintaan pembelian yang diramalkan akan terjadi. Sistem ini sering disebut dengan push manufacturing system, karena barang produksi atas dasar ekspektasi permintaan konsumen.
2.    Sistem manufaktur Just-in-time (JIT). Tujuan sistem ini untuk meminimumkan atau menghilangkan persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Penggunaan JIT sering disebut dengan pull manufacturing system, karena barang hanya diproduksi merespon permintaan konsumen. Secara teoritis, sistem ini hanya akan memproduksi barang jika telah ada order dari pelanggan. Namun dalam praktik, sistem manufaktur JIT lebih condong beroperasi atas dasar rencana produksi jangka pendek.
Dokumen yang digunakan dalam aktivitas perencanaan dan penjadwalan produksi adalah:
1.    Jadwal produksi (master production schedule). Dokumen ini menetapkan jumlah unit produk yang harus dibuat dalan satu putaran produksi, dan waktu pelaksanaan aktivitas produksi.
2.    Order produksi (production order). Dokumen ini merupakan perintah untuk membuat sejumlah produk sesuai dengan spesifikasi yang diminta. Dokumen ini juga berisi daftar kegiatan yang perlu dilakukan, kuantitas yang diproduksi, dan lokasi pengiriman produk apabila produk tersebut telah selesai dibuat.
3.    Bukti permintaan bahan baku (material requisition). Dokumen ini digunakan untuk meminta bahan baku ke gudang ketika aktivitas produksi dimulai. Dokumen ini berisi informasi berupa nomor order, tanggal dikeluarkan, kode bahan baku, dan kuantitas bahan baku. Dalam sistem akutansi biaya, dokumen ini digunakan sebagai dasar untuk mencatat konsumsi bahan baku oleh pabrik.

Tahap ketiga dalam sistem produksi adalah proses pembuatan produk. Aktivitas yang terkait dalam proses produksi ini bervariasi, tergantung pada tingkat kompleksitas produk yang dihasilkan oleh teknologi pemrosesan yang digunakan. Informasi penting yang berhubungan dengan produksi yaitu: konsumsi bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead sehingga sistem informasi akutansi dapat mengolah data tersebut, memprosesnya, dan membuat berbagai macam laporan yang diperlukan.
 Sistem Akutansi Biaya
Tahap akhir dalam sistem produksi adalah sistem akutansi biaya. Tujuan diselenggarakannya sistem akutansi biaya adalah:
1.    Menghasilkan informasi untuk perencanaan, pengendalian, dan penilaian kinerja dalam produksi.
2.    Menghasilkan informasi biaya yang akurat agar dapat digunakan sebagai dasar penentuan harga (pricing) dan keputusan tentang komposisi produk (product mix).
3.    Menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk menghitung nilai persediaan dan harga pokok penjualan.
 Jenis-jenis sistem akutansi biaya yang umumnya digunakan oleh sebuah perusahaan adalah sistem penentuan harga pokok pesanan (job order costing) dan sistem penentuan harga pokok proses (process costing).
Laporan yang dihasilkan oleh sistem akutansi biaya umumnya berupa:
1.    Laporan kontrol (control report)
Laporan ini memberikan bukti bahwa transaksi tidak hilang selama proses. Sistem akutansi biaya menggunakan laporan ini untuk mengikhtisarkan seluruh pesanan, atau kelompok produk yang ditambahkan atau dikeluarkan dari rekening persediaan produk dalam proses. Laporan ini juga digunakan untuk meringkas bahan baku dan tenaga kerja yang ditambahkan ke dalam proses.
2.    Laporan harga pokok produksi (production cost report)
Sistem akutansi biaya menghasilkan laporan biaya produksi yang berbeda. Ada jenis laporan yang menyajikan harga pokok total dan perunit produk perpusat produksi, ada juga laporan yang menghasilkan laporan perjenis produk. Untuk perusahaan yang menggunakan sistem biaya standar, laporan ini menyajikan informasi anggaran biaya dan realisasinya.
Catatan akutansi yang diselenggarakan dalam sistem akutansi biaya adalah :
1.    Jika perusahaan mengolah data biaya secara manual (noncomputerized record) :
a.    Perusahaan jasa dan manufaktur menggunakan sebuah kartu harga pokok produksi (prduction cost ledger) yang berfungsi sebagai kartu pembantu untuk rekening persediaan produk dalam proses.
b.    Jika perusahaan menggunakan sistem harga pokok pesanan, catatan ini dibuat satu halaman untuk setiap pesanan.
c.    Jika perusahaan menggunakan sistem harga pokok proses, catatan ini dibuat dalam satu halaman untuk setiap pusat biaya. Untuk mencatat informasi dalam catatan ini, digunakan arsip order produksi.
2.    Jika perusahaan mengolah data biaya dengan menggunakan komputer:
a.       File induk (master file) dan file transaksi (transaction file). File induk ekuivalen dengan rekening buku besar dan file transaksi ekuivalen dengan jurnal pada sistem manual.
b.      Dalam sistem database, data biaya akan ditampung dalam sub skema secara independen. File-file yang diselenggarakan: file pusat biaya (cost center file) dan file harga pokok pesanan (job cost file)
 Prosedur Pengolahan Transaksi
Pengolahan transaksi biaya dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan komputer. Uraian rinci tentang prosedur pengolahan transaksi biaya, baik untuk sistem manual maupun sistem yang berbasis komputer akan diberikan dalam bentuk narasi dan bagan alir (flowchart).
 Bagian Gudang

1.    Sistem dimulai oleh bagian ini dengan menyerahkan laporan order ulang ke Departemen Pengawasan Produksi, jika persediaan telah mencapat jumlah pemesanan kembali.
2.    Setelah menerima Bukti Permintaan bahan, bagian gudang menyerahkan bahan baku ke bagian pabrik, dan meneruskan bukti permintaan bahan ke Bagian Akutansi Biaya.
Departemen Pengawasan Produksi
1.    Atas dasar laporan order ulang, departemen ini membuat order produksi sebanyak 2 lembar dan mendistribusikannya sebagai berikut:
-       Lembar ke 1 diteruskan ke Bagian Pabrik
-       Lembar ke 2 diserahkan ke Bagian Akutansi Biaya

Bagian Pabrik

1.    Atas dasar perintah produksi yang diterima, bagian ini akan meminta bahan baku dengan membuat Bukti Permintaan Bahan dan diserahkan ke Bagian Gudang.
2.    Setelah menerima bahan baku dari gudang, bagian ini akan membuat tiket kerja (job ticket) dan menyerahkannya ke Bagian Akutansi Biaya.
3.    Selanjutny, bagian ini akan mengerjakan proses pembuatan barang. Jika telah selesai maka Bagian Pabrik akan melengkapi isian pada perintah produksi (order produksi final) dan menyerahkannya ke Bagian Akutansi Biaya.

Bagian Akutansi Biaya

 1.    Bagian ini mula-mula menerima tembusan perintah produksi, lalu menyiapkan catatan akutansi biaya dan mengarsipkan dokumen tersebut urut nomor.
2.    Bagian ini selanjutnya juga menerima bukti permintaan bahan dan tiket kerjanya, selanjutnya bagian ini akan mengeluarkan perintah produksi dari arsipnya dan mencatat konsumsi biaya dalam catatan akutansi biaya.

Pengolahan transaksi biaya dapat pula dilaksanakan dengan menggunakan komputer sebagai alat bantu.
Bagian Gudang
1.    Bagian ini akan menyerahkan laporan order ulang ke Departemen Pengawasan Produksi jika persediaan telah mencapai titik pemesanan kembali.
2.    Setelah menerima permintaan bahan baku, bagian gudang menyerahkan bahan baku ke Bagian Pabrik, dan meneruskan bukti permintaan bahan baku ke Bagian Akutansi Biaya.
Departemen Pengawasan Produksi
1.    Atas dasar dokumen laporan order ulang, departemen ini membuat perintah produksi (order produksi) sebanyak 2 lembar dan mendistribusikannya sebagai berikut
-       Lembar ke 1 diteruskan ke Bagian Pabrik
-       Lembar ke 2 diserahkan ke Departemen Pengolahan Data



Departemen Pengolahan Data
1.    Menerima order produksi lembar ke 2 dari Departemen Pengawasan Produksi. Selanjutnya, bagian ini melakukan perhitungan jumlah kelompok, dan meneruskan dat produksi ke dalam komputer.
2.    Setelah menerima input data produksi, bagian ini menjalankan program kompoter berupa validasi transaksi. Keluaran dari proses ini adalah hasil perhitungan jumlah kelompok dan data produksi yang telah divalidasi.
3.    Selanjutnya bagian ini akan menjalankan program penggabungan data produksi yang baru dengan data yang telah terkumpul sebelumnya. Keluaran dari proses ini adalah data  produksi yang telah digabungkan dalam file harga poko pesanan.
4.    Bagian ini menerima bukti permintaan bahan baku dan tiket waktu kerja. Atas dasar kedua dokumen tersebut dilakukan perhitungan jumlah data kelompok dan memasukan data produksi ke dalam komputer.
5.    Setelah menerima input data pemakaian bahan baku dan tenaga kerja, bagian ini menjalankan program validasi transaksi. Jika dari hasil proses validasi ini terdapat kesalahan maka bagian ini akan melakukan perbaikan dan entry ulang data sampai tidak lagi terdapat kesalahaan, dan kemudian menjalankan program pengurutan data berdasarkan nomor perintah produksi. Keluaran dari proses ini adalah data transaksi akutansi biaya yang sudah urut dan laporan kontrol.
6.    Tahap berikutnya bagian ini akan menjalankan program update catatan akutansi biaya. Hasil dari proses ini adalah laporan kontrol, file harga pokok pesanan yang telah di-update dan file pusat biaya.
7.    Setelah produk yang sudah lengkap (order produk final) dari Bagian Pabrik. Selanjutnya bagian ini akan memasukan data prosuk selesai ke dalam komputer dan menjalan program perhitungan harga pokok perunit dan membuat laporan harga pokok pesanan. Hasil dari proses ini adalah laporan harga pokok pesanan dan jurnal voucher yang diarsipkan urut nomor.
Bagian Pabrik
1.    Atas dasar order produksi yang diterima dari Departemen Pengawasan Produksi, bagian ini akan meminta bahan baku dengan membuat bukti permintaan bahan baku dan diserahkan ke Bagian Gudang.
2.    Setelah menerima bahan baku dari Bagian Gudang, bagian ini akan membuat tiket waktu kerja (job ticket) dan menyerahkannya ke Departemen Pengolahan Data.
3.    Selanjutnya bagian ini akan mengerjakan proses pembuatan barang. Jika proses produksi telah selesai maka Bagian Pabrik akan melengkapi isian pada perintah produksi (order produksi final) dan menyerahkannya ke Depatemen Pengolahan Data.

A.  Siklus Keuangan
Siklus keuangan melaporkan sumber kapital pada manajer berkenaan dengan hasil operasinya. Sistem laporan keuangan ini menunjukkan pada kesatuan eksternal dengan meringkas data akutansi dan menunjukkannya dalam rekening keuangan. Terkadang meliputi sistem akutansi tanggung jawab yang menunjukkan biaya aktual dan dianggarakan pada manajer individu. Catatan jurnal dan aplikasi laporan keuangan terkadang merupakan komponen sistem buku besar umum. Gambar 6.4 meringkas komponen siklus keuangan.


Sumber kapital organisasi meliputi para pemlik dan kreditor. Organisasi menerima kas dari sumber tersebut dan menanamkan modal kas dalam aset produktif. Organisasi mengikut sertakan tiga bentuk transaksi kapital: pinjaman bank, pengeluaran saham kapital.
Catatan akutansi secara manual untuk kapital equiti adalah: buku besar wesel bayar, buku besar pemilik surat obligasi (pemegang obligasi), dan buku besar pemilik saham. Jika catatan berbasis komputer, semuanya disebut master file.
Kontrol yang dilakukan untuk transaksi equiti adalah kontrol untuk pinjaman bank, kontrol untuk keluarnya bon (obligasi), dan kontrol untuk keluarnya saham.
Sistem pemilikan atau kekayaan adalah menentukan catatan yang tepat terhadap semua kekayaan, pabrik dan perlengkapan yang nilainya turun. Sistem ini juga menentukan catatan depresiasi tahunan yang terkumpul. Dokumen dan transaksi sistem kekayaan mencatat tiga jenis tramsaksi yaitu perolehan pemilikan, depresiasi, dan disposisi pemilikan.
Sedangkan pelaporan sistem pemilikan meliputi register dan pelaporan kontrol, laporan kegunaan khusus, daftar pemilikan, dan jadwal depresiasi.
Catatan sistem pemilikan yang tidak terkomputerisasi yaitu buku besar pemilikan, sedangkan yang terkomputerisasi merupakan master file pemilikan.


Rangkuman
Siklus produksi mencakup serangkaian aktivitas bisnis dan kegiatan pengolahan data yang berkaitan dengan proses pembuatan produk. Sedangkan dalam siklus keuangan, sistem akutansi mencatat dua kegiatan ekonomi, yaitu: pertama, bisnis menaikkan modal dari para pemilik dan produksi yang dipakai untuk memperoleh pendapatan. Baik dari siklus produksi maupun siklus keuangan dapat dilakukan secara manual maupun terkomputerisasi.
Kedua siklus ini harus memiliki aplikasi pengendalian atau prosedur kontrol guna menjamin bahwa sistem berjalan dengan baik untuk mencapat tujuan.

SUMBER : http://katcuyah.blogspot.com/2012/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_10.html






Jumat, 24 Januari 2014

TUGAS 4.2 JELASKAN SIKLUS PENGELUARAN

SIKLUS PENGELUARAN

Pengertian Siklus Pengeluaran

Siklus Pengeluaran adalah aktivitas bisnis yang berulang dan operasi pemrosesan data yang terkait dengan pembelian dan pembayaran barang dan jasa.
Tujuan utama dari siklus pengeluaran ini adalah untuk mempermudah pertukaran kas dengan para pemasok untuk barang dan jasa yang dibutuhkan dimana tujuan khusus yang terkandung didalamnya meliputi :

1. Memastikan bahwa seluruh barang dan jasa dipesan sesuai keperluan
2. Menerima seluruh barang yang dipesan dan menverifikasi bahwa barang tersebut adalah valid dan benar
3. Menjaga barang tersebut sampai dibutuhkan
4. Memastikan bahwa faktur yang berhubungan dengan barang dan jasa adalah valid dan benar
5. Mencatat dan mengklasifikasikan pengeluaran secara cepat dan tepat
6. Memposkan kewajiban dan pengeluaran kas ke dalam perkiraan pemasok yang tepat di dalam buku besar utang usaha
7. Memastikan bahwa seluruh pengeluara kas berhubungan dengan pengealuran yang sudah diotorisasi
8. Menyiapakn seluruh dokumen dan laporan manajerial yang diperlukan yang berhubungan dengan barang atau jasa yang diperoleh

Fungsi dari Siklus Pengeluaran itu sendiri terdiri dari :
1. Mengetahui kebutuhan akan barang tersebut
2. Menempatkan Pesanan, Menerima dan menyimpan barang
3. Memastikan validitas kewajiban pembayaran
4. Menyiapkan pengeluaran kas
5. Mengelola utang usaha
6. Memposkan transaksi ke dalam buku besar umum
7. Menyiapkan laporan keuangan dan laporan manajemen yang diperlukan 

B. Aktivitas Bisnis Siklus Pengeluaran 

Memesan barang, perlengkapan dan jasa (layanan)
Menerima dan menyimpan barang, perlengkapan dan jasa (layanan)
Membayar barang, perlengkapan dan jasa (layanan)

Aktivitas Permintaan Pembelian Barang dan Jasa
Aktivtas permintaan pembelian barang dan jasa dilakukan dengan menggunakan dokumen Purchase Requisition. Dokumen ini berisi daftar pemesanan yang, meliputi tujuan pengiriman barang, tanggal pemesanan, nama dan jenis barang dan kuantitas pemesanan. Prosedurnya adalah tiap-tiap departemen diperbolehkan mengisi dokumen Purchase Requisition atas persetujuan dari manajernya. Setelah itu dokumen Purchase Requisition diserahkan ke departemen pembelian barang untuk dipesankan.
Hal ini dilakukan agar kebutuhan tiap-tiap departemen dapat terpenuhi dan juga merupakan pengendalian perusahaan agar dapat tidak terjadi penggandaan pemesanan barang ke supplier.

Ada 2 jenis metode pengendalian persediaan atau perlengkapan yaitu:

a. Metode Pengendalian Tradisional
Metode pengendalian persediaan tradisional ini sering disebut: kuantitas pesanan ekonomis [EOQ]). Pendekatan ini didasarkan pada perhitungan jumlah optimal pesanan untuk meminimalkan jumlah biaya pemesanan, penggudangan dan kekurangan persediaan

b. Metode Pengendalian Altenatif
a. MRP (material requirement planning)

Pendekatan ini bertujuan mengurangi tingkat persediaan yang dibutuhkan dengan cara menjadwalkan produksi, bukan memperkirakan kebutuhan.
b. JIT (just in time)

 Sistem JIT berusaha untuk meminimalkan, jika bukan menghilangkan, baik biaya penggudangan maupun kekurangan persediaan.
Perbedaan mendasar antara system JIT dan MRP

– Sistem MRP menjadwalkan produksi untuk memenuhi perkiraan kebutuhan penjualan, sehingga menghasilkan persediaan barang jadi.
– Sistem JIT menjadwalkan produksi untuk memenuhi permintaan pelanggan, sehingga secara nyata meniadakan persediaan barang jadi. 

Dokumen – Dokumen Permintaan Pembelian
Permintaan pembelian adalah sebuah dokumen yang mengidentifikasikan berikut ini :
– Peminta dan mengidentifikasi nomor barang
– Menspesifikasikan lokasi pengiriman dan tanggal dibutuhkan
– Deskripsi, jumlah barang, dan harga setiap barang yang diminta
– Dan dapat berisi pemasok yang dianjurkan 

Aktivitas Penerimaan dan Penyimpanan Barang dan Jasa
Aktivitas penerimaan barang dan jasa yang telah dibeli dilakukan dengan menggunakan dokumen Receiving Report. Dokumen ini berisi tentang pengakuan penerimaan barang dan jasa, yang meliputi tanggal diterimanya barang, jenis dan kuantitas barang yang telah diterima, asal pengiriman (Supplier), dan nomor Purchase Order.
Pada aktivitas ini dilakukan pencocokan Faktur dengan Purchase Order dengan tujuan untuk mengetahui apakah barang yang diterima telah sesuai dengan yang dikirim melebihi kuantitas yang dipesan, atau bahkan telah terjadi salah pengiriman, maka barang yang bersangkutan akan langsung dikembalikan kepada Supplier yang bersangkutan. Pada aktivitas ini juga mungkin dilakukan adanya retur/pengembalian atas barang yang rusak saat diterima.
Setelah itu, Bagian gudang akan membuat dokumen Receive Report untuk mengakui pertambahan persediaan di gudang berdasarkan faktur. Dalam hal mengakui pertambahan persediaan digudang berdasarkan Faktur. Dalam hal ini, hanya barang-barang yang terdapat dalam Purchase Order saja yang boleh diakui, sedangkan yang tidak sesuai langsung dikembalikan. Hal ini merupakan pengendalian perusahaan agar dapat mengetahui barang apa saja yang telah diterima dan yang belum dikirim oleh Supplier.
Laporan penerimaan adalah dokumen utama yang digunakan dalam subsistem penerimaan dalam siklus pengeluaran, laporan ini mendokumentasikan rincian mengenai: setiap kiriman, termasuk tanggal penerimaan, pengiriman, pemasok, dan nomor pesanan pembelian.
Bagian penerimaan mempunyai dua tanggung jawab utama: 

Memutuskan apakah menerima pengiriman
Memeriksa jumlah dan kualitas barang

Aktivitas Pembayaran Atas Pembelian Barang dan Jasa
 Aktivitas Persetujuan Faktur dari Supplier
Aktivitas persetujuan dari Supplier dalam rangka pembayaran atas pembelian. Dilakukan dengan menggunakan dokumen Voucher Package. Dokumen ini berisi tanggal pembuatannya, tanggal pemmbayaran, serta jumlah harga barang dan jasa yang telah diterima berdasarkan Source Document yang ada meliputi Faktur, Purchase Order, dan Receiving Report.
Pada aktivitas ini dilakukan pencocokan Receiving Report dengan Purchase Order dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua barang yang dipesan sedah diterima/dikirim semua. Kemudian dibuatlah Voucher Package untuk memastikan jumlah harga yang harus dibayar kepada Supplier. Hal ini merupakan pengendalian perusahaan agar dapat mengetahui berapa jumlah yang harus dibayar sesuai dengan jumlah barang yang telah diterima sesuai dengan kenyataannya
Tujuan tang usaha adalah untuk mensahkan pembayaran hanya untuk barang dan jasa yang dipesan dan benar-benar diterima.
Memperbaiki Utang Usaha
Efisiensi pemrosesan dapat diperbaiki dengan:
• Meminta para pemasok untuk memberikan faktur secara elektronis, baik melalui EDI atau melalui Internet
• Penghapusan faktur vendor (pemasok). Pendekatan tanpa faktur ini disebut Evaluated Receipt Settlement (ERS). 

Ada dua cara untuk memproses faktur penjualan dari vendor : 

1. Sistem tanpa voucher
2. Sistem Voucher
Aktivitas pembayaran atas pembelian barang dan jasa yang telah dilakukan dengan menggunakan dokumen pengeluaran kas. Dokumen ini berisi tanggal pembayarann, jumlah harga yang harus dibayar, beserta nomor Faktur. Pada saat jatuh tempo pembayaran, pihak Supplier akan mengih perusahaan sesuai dengan dokumen voucher Package. Hal ini merupakan pengendalian perusahaan agar dapat mengetahui jumlah pengeluaran kas perusahaan.
Membayar faktur penjualan yang telah disetujui
Kasir menyetujui faktur
Gabungan dari faktur vendor dengan dokumen pendukungnya disebut : Bundel voucher. 
Pemrosesan dan Bagan Arus (Flowchart) Siklus Pengeluaran
Siklus Pengeluaran yang akan dibahas dibawah ini terbagi atas tiga yaitu :
1. Sistem Pembelian
2. Sistem Pengeluaran Kas
3. Sistem Pembayaran Gaji
Sistem Pembelian
Bagian yang terkait dalam sistem ini meliputi :
· Bagian pembelian, yang berfungsi melakukan pemesanan dari penjual dan meng input nya ke komputer
· Bagian hutang, yang bertanggung jawab untuk memelihara catatan berbagai pembelian barang ke pemasok, sehingga dapat diketahui jumlah hutang kepada masing-masing pemasok dan juga riwayat layanan pemasok.
· Bagian gudang, yang bertugas menerima kiriman barang yang dipesan dan dan membuat laporan kepada bagian pembelian bahwa barang sudah diterima, sehingga siap menerima tagihan.
· Bagian hutng, yang bertugas menerima faktur penjualan atau tagihan dari pemasok.
· Bagian keuangan atau kasir bertanggung jawab untuk membayar hutang kepada pemasok sesuai dengan masa potongan sehingga perusahaan dapat memperoleh potongan tunai dan menyelenggarakan pencatatan atas pembayaran.

Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi pemebelian ini terdiri atas :

1. Permintaan Barang (Material requisition atau Purchase requisition)
Dokumen awal dalam siklus pengeluaran yang mengotorisasi penempatan pesanan barang atau jasa.
2. Penawaran Barang (Qutation)
Dokumen yang digunakan dalam prosedur persaingan tawar-menawar, menunjukkan barang dan jasa yang dibutuhkan dan harga pesaingnya, syarat, dan lain sebagainya.
3. Pemesanan Barang (Purchase Order)
Dokumen ini mencantumkan dekripsi, kualitas dan kuantitas atau informasi lain atas barang atau jasa yang hendak dibeli.
4. Bukti Penerimaan Barang (Delivery Receipt)
Dokumen yang menunjukkan tanggal barang diterima, nomor purchase order, kode dan nama barang, banyaknya barang yang diterima dan identitas
5. Faktur Penjualan (Invoice)
Dokumen yang menunjukkan deskripsi dan kuantitas barang yang dijual, harga termasuk ongkos angkut, asuransi, syarat pembayaran, dan data lain yang relevan.
Kebutuhan Informasi 

Fungsi ketiga dari SIA adalah menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan.

Kegunaan dalam siklus pengeluaran berarti bahwa SIA harus memberikan informasi operasional yang dibutuhkan untuk melakukan fungsi-fungsi berikut ini :
· Menetapkan kapan dan seberapa banyak tambahan persediaan yang akan dipesan.
· Memilih pemasok yang tepat untuk pesanan.
· Memveifikasi akurasi faktur dari vendor.
· Memutuskan apakah diskon pembelian harus dimanfaatkan.
· Mengawasi kebutuhan arus kas untuk membayar kewajiban yang belum diselesaikan.

Sebagai tambahan, SIA harus memberikan informasi evaluasi strategis dan kinerja berikut ini:
· Efisiensi dan efektivitas bagian pembelian
· Analisis kinerja pemasok, seperti pengiriman tepat waktu dan kualitas.
· Waktu yang digunakan untuk memindahkan barang dari area penerimaan ke produksi.
· Persentase diskon pembelian yang dimanfaatkan
Prosedur Pengendalian secara umum yang terkait dengan siklus pengeluaran
Auditor harus memahami bagaimana kecenderungan kelima kategori prosedur pengendalian dalam operasi transaksi siklus pengeluaran ini. Kelima kategori tersebut antara lain :
1. Adanya otorisasi yang memadai
2. Adanya pemisahan tugas
3. Adanya dokumen dan catatan akuntansi
4. Adanya akses kea rah pengendalian
5. Pengecekan yang di lakukan oleh personel yang independent
Auditor harus melakukan evaluasi apakah prosedur pengendalian dalam perusahaan benar-benar telah berjalan dengan baik. Prosedur pengendalian yang tidak memenuhi kelima criteria tersebut mempunyai kecenderungan risiko audit yang tinggi.
Pengendalian Intern terhadap siklus pengeluaran

1. Catatan dan dokumen yang biasa digunakan dalam transaksi siklus pengeluaran
Check, yaitu dokumen perintah pembayaran sejumlah uang kepada bank
Check Summary, yaitu laporan tentang ringkasan check yang telah dikeluarakan dalam suatu periode
Cash Disbusement Transaction File, yaitu file yang berisi informasi pembayaran cek untuk penjual atau pihak lain yang digunakan untuk memasukan ke dalam rekening utang dagang dan buku besar
Cash Disbusement Juornal or Check Register, merupakan catatan formal terhadap pengeluaran cek untuk pihak lain
2.Fungsi-fungsi terkait dalam transaksi siklus pengeluaran
Nama Fungsi Unit Organisasi Pemegang Fungsi
1. Fungsi yang memerlukan pengeluaran kas
2. Fungsi pencatatan utang
3. Fungsi keuangan
4. Fungsi akuntansi biaya
5. Fungsi akuntansi umum
6. Fungsi audit intern
7. Fungsi penerimaan kas Bagian pemasaran atau bagian-bagian lain
Bagian utang
Bagian kasa
Bagian akuntansi biaya
Bagian akuntansi umum
Bagian audit intern
Bagian kasa
Keterangan :
1. Fungsi yang memerlukan pengeluaran kas (misalnya untuk pembelian jasa dan untuk biaya perjalanan dinas), fungsi yang bersangkutan mengajukan permintaan cek kepada fungsi pencatatan utang. Permintaan cek ini harus mendapat persetujuan dari kepala fungsi yang bersangkutan.

2. Fungsi pencatatan utama
Fungsi ini bertanggung jawab atas pembuatan bukti kas keluar yang memberikan otorisasi kepada fungsi keuangan dalam mengeluarkan cek yang tercantum dalam dokumen tersebut. Fungsi ini juga bertanggung jawab untuk melakukan verifikasi kelengkapan dan validitas dokumen pendukung yang dipakai sebagai dasar pembuatan bukti kas keluar.

3. Fungsi keuangan.
Dalam transaksi pengeluaran kas, fungsi ini bertanggungjawab untuk mengisi cek, meminta otorisasi atas cek, dan mengirimkan cek kepada kreditur via pos atau membayarkan langsung kepada kreditur.

4. Fungsi akuntansi biaya
Dalam transaksi pengeluaran kas, fungsi ini bertanggungjawab atas pencatatan pengeluaran kas yang menyangkut biaya dan persediaan.

5. Fungsi akuntansi umum
Dalam transaksi pengeluaran kas, fungsi ini bertanggungjawab atas pencatatan transaksi pengeluaran kas dalam jurnal pengeluaran kas atau register cek.


6. Fungsi audit intern
Fungsi ini bertanggung jawab untuk melakukan perhitungan kas (cash count) secara periodik dan mencocokkan hasil perhitungannya dengan saldo kas menurut catatan akuntansi (akun kas dalam buku besar). Fungsi ini bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan secara mendadak (surprised audit) terhadap saldo kas yang ada ditangan dan membuat rekonsiliasi bank secara periodik.

Risiko yang terdapat struktur pengendalian intern siklus pengeluaran.
Dalam memahami risiko pengendalian yang timbul dalam transaksi pengeluaran kas harus memperhatikan kemungkinan-kemungkinan salah saji, pengendalian yang dibutuhkan, serta kemungkinan pengujian yang harus dilakukan berikut ini:

a. Terhadap transaksi pembayaran hutang.
Kemungkinan adanya pengeluaran cek untuk pembelian yang tidak disetujui, harus dikendalikan dengan cara penandatanganan cek melakukan penelaahan terhadap kelengkapan pendukung voucher dan persetujuannya. Auditor dapat melakukan pengujian dengan cara observasi apakah penandatanganan cek melakukan pengecekan dengan bebas terhadap dokumen pendukung.

Kemungkinan voucher dibayar dua kali, dikendalikan dengan pemberian cap terhadap voucher dan dokumen pendukungnya bila telah dibayar. Auditor dapat melakukan pengujian apakah semua pembayaran diberi cap.

Check mungkin dibayarkan untuk jumlah yang salah, dikendalikan dengan pengecekkan oleh pihak yang bebas mengenai kesesuaian jumlah dalam check dengan voucher-nya.
Check mungkin dirubah setelah ditandatangani, dikendalikan dengan pengecekan pemberian tanda cek yang dikirim. Auditor dapa melakukan pengujian dengan melakukan wawancara tentang prosedur pengiriman check, dan observasi proses pengiriman check.
b. Terhadap transaksi pengeluaran kas.
Check mungkin tidak dicatat, dikendalikan dengan check yang bemomor urut tercetak. Auditor melakukan pengujian terhadap penggunaan dokumen bemomor urut tercetak.
Kesalahan-kesalahan dalam pencatatan check, dikendalikan dengan pembuatan rekonsiliasi bank secara periodik oleh pihak yang bebas. Auditor dapat melakukan pengujian terhadap bank rekonsiliasi.
Check tidak dicatat dengan segera, dikendalikan oleh pihak yang bebas untuk mencocokkan tanggal check dan tanggal pencatatannya. Pengujian yang dilakukan dengan memperlihatkan kembali adanya kebebasan dalam pengecekan.

SUMBER : http://ilhamposts.blogspot.com/2012/11/siklus-pengeluaran.html


TUGAS 4.1 JELASKAN SIKLUS PENDAPATAN

SIKLUS PENDAPATAN

siklus pendapatan adalah rangkaian aktivitas bisnis dan kegiatan pemrosesan informasi terkait yang terus berulang dengan menyediakan barang dan jasa ke para pelanggan dan menagih kas sebagai pembayaran dari penjualan-penjualan tersebut. Oleh karenanya kami akan merumuskan masalah dalam desain sistem umum siklus pendapatan.



Tujuan utama siklus pendapatan adalah untuk menyediakan produk yang tepat ditempat dan waktu yang tepat dengan harga yang sesuai. Siklus-siklus transaksi mengelompokkan kegiatan-kegiatan dalam sebuah sistem informasi. Gambar di bawah ini menunjukkan hubungan antara dua siklus transaksi jual beli dan subsistem-subsistem sistem informasi untuk sebuah perusahaan jual-beli barang. Perusahaan jual-beli barang adalah organisasi yang membeli barang dari pemasok dan menjual barang tersebut ke pelanggan.

Gambar sebelah kiri menunjukkan siklus pendapatan atau revenue cycle yang berisi transaksi-transaksi yang berhubungan dengan proses pendapatan. Siklus pendapatan terdiri dari semua kegiatan dalam sistem order entry/penjualan, sistem penagihan/penerimaan kas, dan sebagian kegiatan yang relevan dalam sistem inventaris dan sistem general ledger. Operasi - operasi siklus pendapatan menyertakan :
·         Pendapatan dan pencatatan order pelanggan
·         Pengiriman barang dan pencatatan biaya dari barang yng terjual
·         Penagihan dan pencatatan penjualan dan accounts receivable
·         Pendapatan dan pencatatan penerimaan kas  

Contoh Flowchart Pendapatan Manual

Urutan Aktivitas
Siklus pendapatan dimulai dengan penerimaan pesanan dari para pelanggan. Departeman bagian pesanan penjualan, yang bertanggung jawab pada wakil direktur utama bagian pemasaran, melakukan proses entri pesanan penjualan. Entri pesanan penjualan mencakup tiga tahap: mengambil pesanan dari pelanggan, memeriksa dan menyetujui kredit pelanggan, serta memeriksa ketersediaan persediaan dan juga menjawab permintaan pelanggan.
a.   Mengambil pesanan pelanggan
      Pesanan pelanggan dapat diterima dalam berbagai cara: di toko, melalui surat, melalui telepon, melalui web site, atau melalui tenaga penjualan di lapangan. Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi entri pesanan penjualan adalah dengan mengizinkan para pelanggan untuk memasuki data pesanan penjualan sendiri. Hal ini secara otomatis akan tercapai untuk penjualan melalui web site, tetapi hal ini juga dapat dicapai baik dalam penjualan melalui toko maupun surat.
b.   Persetujuan kredit
      Sebagian besar penjualan antarperusahaan (business-to-business sales) dilakukan secara kredit. Penjualan secara kredit harus disetujui sebelum diproses. Bagi pelanggan lama dengan catatan pembayaran yang baik, pemeriksaan kredit formal untuk setiap penjualan biasanya tidak dibutuhkan. Pada kasus semacam ini, menyetujui kredit bagi pelanggan melibatkan pemeriksaan file induk pelanggan untuk memverifikasi saldo yang ada, mengidentifikasi batas kredit pelanggan, dan memverifikasi bahwa jumlah pesanan tersebut ditambah dengan saldo rekening yang tidak melebihi batas kredit ini. Proses ini dapat diotomatisasikan dengan menggunakan pemeriksaan edit lainnya selama proses entri pesanan, yaitu pemeriksaan batas.
Otorisasi khusus untuk menyetujui kredit digunakan bagi para pelanggan baru, ketika sebuah pesanan melebihi batas kredit pelanggan tersebut, atau ketika pelanggan tersebut memiliki saldo lewat jatuh tempo yang belum dibayar. Otorisasi jenis ini harus dilakukan oleh manajer bagian kredit.
c.   Memeriksa ketersediaan persediaan
      Langkah berikutnya adalah menetapkan apakah tersedia cukup persediaan untuk memenuhi pesanan tersebut, agar pelanggan dapat diinformasikan mengenai perkiraan tanggal pengiriman.
      Apabila tersedia cukup banyak persediaan untuk memenuhi pesanan tersebut, pesanan penjualan tersebut dilengkapi dan kolom jumlah yang tersedia dalam file persediaan untuk setiap barang dikurangi sejumlah barang yang dipesan.
      Ketika ketersediaan persediaan telah dipastikan, sistem tersebut kemudian akan membuat kartu pengambilan barang (picking ticket) yang berisi daftar jenis barang-barang, dan jumlah setiap jenis barang, yang dipesan pelanggan. Kartu pengambilan memberikan otorisasi bagi bagian pengawasan persediaan untuk melepaskan barang dagangan ke bagian pengiriman.
d.   Menjawab permintaan pelanggan
      Pelayanan pelanggan adalah hal yang begitu penting hingga perusahaan-perusahaan mengunakan software khusus, yang disebut sistem manajemen pelayanan pelanggan (Customer Relationship Management-CRM), untuk mendukung proses penting ini. Sistem CRM membantu mengatur data terinci mengenai para pelanggan hingga data tersebut dapat digunakan untuk memfasilitasi layanan yang lebih efisien serta personal.
      Tujuan dari CRM adalah untuk mempertahankan pelanggan. Sistem CRM seharusnya dilihat sebagai suatu cara untuk meningkatkan pelayanan pelanggan yang diberikan. Tujuannya adalah untuk mengubah pelanggan yang loyal menjadi pelanggan yang puas dengan cara memperdalam hubungan tersebut. 
@ Pengiriman
Aktivitas dasar kedua dalam siklus adalah memenuhi pesanan pelanggan dan mengirimkan barang dagangan yang diinginkan tersebut. Proses ini terdiri dari dua tahap:
1.  Mengambil dan mengepak pesanan
2.  Mengirim pesanan tersebut
Departemen bagian penggudangan dan pengiriman melakukan aktivitas ini.
a.   Ambil dan mengepak pesanan
Kartu pengambilan barang yang dicetak sesuai dengan entri pesanan penjualan akan memicu proses pengambilan dan pengepakan. Para pekerja bagian gudang menggunakan kartu pengambilan barang untuk mengidentifikasi produk mana, dan jumlah setiap produk untuk mengeluarkannya dari persediaan. Persediaan kemudian akan dipindahkan ke departemen pengiriman.
            Sistem gudang otomatis tidak hanya memotong biaya dan meningkatkan efisiensi dalam menangani persediaan, tetapi juga memungkinkan pengiriman yang lebih responsif ke pelanggan.
b.   Mengirim pesanan
Departemen pengiriman membandingkan perhitungan fisik persediaan dengan jumlah yang ditunjukkan dalam kartu pengambilan barang dan dengan jumlah yang ditunjukkan dalam salinan pesanan penjualan yang dikirim secara langsung ke bagian pengiriman dari entri pesanan penjualan.
Dokumen pengiriman adalah kontrak legal yang menyebutkan tanggung jawab atas barang yang dikirim.  Departemen pengiriman menyimpan salinan kedua dokumen pengiriman untuk melacak dan mengkonfirmasikan pengiriman barang ke kurir tersebut. Salinan lainnya dari dokumen pengiriman dan slip pengepakan dikirim ke departemen penagihan untuk menunjukkan bahwa barang tersebut telah dikirim dan faktur penjualan harus dibuat serta dikirim. Kurir tersebut juga menahan satu salinan dokumen pengiriman untuk catatan mereka.
           
 Tahap selanjutnya dalam siklus sistem informasi adalah tahap perancangan. Pekerjaan rancangan dimulai dari merancang keluaran.
 Output
Output dari sistem informasi adalah yang dibutuhkan manajemen. Output berupa laporan yang akan digunakan sebagi alat menentukan keputusan dan perencanaan serta pengendalian. Dalam penentuan output ada hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
·         Merancang format laporan
·         Merancang isi laporan
·         Merancang jumlah laporan, distribusi dan lain – lain
·         Input
Dokumen yang diperlukan sebagai masukan siklus pendapatan sebagian berasal dari pembeli. Input dari siklus pendapatan adalah faktur penjualan.
·         Database
Database diperlukan oleh perusahaan yang menggunakan sistem terkomputerisasi. Maka diperlukan data yang meliputi:
-       Kode barang                                  - jumlah pesanan
-       Nama barang                                 - pembelian terakhir
-       Lokasi penyimpanan                      - persediaan
-       Satuan                                            - harga beli
-       Persediaan minimum                     - jumlah pengadaan kembali
·         Pengendalian
Tujuan umum yang berhubungan dengan semua aktivitas dalam siklus pendapatan adalah bahwa data tersedia ketika dibutuhkan dan bahwa semua aktivitas dilakukan secara efisien dan efektif.
1.      Kehilangan data
Akibat :
·         Kehilangan semua data piutang usaha dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan.
·         Selain itu membocorkan rahasia pelanggan ke pesaing dapat menurunkan penjualan dan bahkan membuat perusahaan menghadapi tanggung jawab hukum.
Pengendalian :
·         File induk piutang usaha, penjualan, penerimaan kas dibuat cadangan secara teratur.
·         Disk dan Tape diberi label file agar tidak terhapus secara tidak sengaja
·         Sistem harus diberi password dan ID pemakai untuk melindungi file yang penting.
2.      Kinerja yang kurang baik
Akibat :
·         Pelaksanaan tugas menjadi tidak efisien dan tidak efektif.
·         Hal yang lain adalah dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan.
Pengendalian :
·         Menetapkan dasar / standar penilaian terhadap efisiensi dan efektifitas.
·         Membuat laporan secara periodik untuk penilaian dan analisis terhadap sistem kerja dan kinerja karyawan.
Prosedur Back-Order
Ketika jumlah barang dalam persediaan di gudang tidak mencukupi untuk memenuhi pesanan pelanggan, dokumen back-order  akan dibuat. Dokumen ini bias berupa pesanan penjualan yang baru atas barang yang tersisa atau salinan dari pesanan pelanggan saat ini yang disesuaikan untuk menunjukkan produk yang belum dipenuhi. Dokumen back-order kemudian di tempatkan pada file  sendiri sampai barang tersebit dikirim oleh pemasok. Back0order harus dipenuhi sebelum proses penjualan baru diproses.
Dalam waktu ke waktu, pelanggan mengembalikan barang yang sudah dibelinya. Hal iini bias disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
·         Penjualan mengirimkan barang yang salah
·         Barang yang dikirim ternyata rusak atau cacat
·         Barang tersebut rusak pada saat pengiriman
·         Penjualan terlalu terlambat mengirimkan barang atau terjadi keterlambatan karena penundaan saat transit, dan pembeli menolak pengirim tersebut.
Ketika retur perlu dilakukan, pembelia akan meminta penjual untuk mengembalikan pembayaran dari barang yang tidak diinginkannya tersebut.
Prosedur Retur Penjualan
·Departemen Penerimaan Barang
Ketika barang dikembalikan, staf penerimaan menghitung, memerikasa, dan menyiapkan slip retur barang yang mendeskripsikan barang tersebut. Barang tersebut dibawa ke gudang bersama dengan salinan slip retur barang. Salinan kedua dari slip retur barang ini dikirim ke departemen penjualan.
·Departemen Penjualan.
Saat menerima slip retur barang, staf penjualan menyiapkan memo kredit. Dokumen ini merupakan alat yang sah bagi pelanggan untuk menerima pembayaran atas barang yang dikembalikan.
·Departemen Kredit
Manajer kredit mengevaluasi kondisi pengembalian dan membuat keputusan untuk memberikan atau menolak pengembalian tersebut. Manajer kemudian mengembalikan memo kredit ke departemen penjualan.
·Departemen Penagihan
Staf penagihan menerima memo kredit dari departemen penjualan dan mencatat kredit tersebut dalam jurnal penjualan sebagai entri kontra. Staf ini kemudian mengirimkan tersebut dalam jurnal penjualan ke bagian pengendalian persediaan untuk dilakukan proses pembukuan. Pada akhir periode, total pengembalian penjualan dirangkum dalamvoucher jurnal dan dikirim ke departemen buku besar umum.
·Departemen Pengendalian Persediaan dan Piutang Dagang
Staf pengendalian persediaan menyesuaikan catatan persediaan dan meneruskan memo kredit ke departemen piutang, di mana rekening pelanggan akan disesuaikan. Departemen pengendalian persediaan dan piutang dagang mengirimkan rangkuman informasi ke departemen buku besar umum. Selanjutnya, departemen pengendalian persediaan mengirimkan voucher jurnal yang merangkum total nilai dari pengembalian persediaan, dan departemen piutang dagang mengirimkan rangkuman akun dari buku besar pembantu piutang dagang.
·Departemen Buku Besar Umum
Staf departemen buku besar umum menerima voucher jurnal dari departemen penagihan dan pengendalian persediaan serta rangkuman akun dari departemen penagihan dan pengendalian persediaan serta rangkumna akun dari departemen piutang dagang. Staf lalu membukukan voucher jurnal tersebut ke akun pengendalian.
 Prosedur Penerimaan Kas
·  Prosedur Ruang Penerimaan Dokumen
Ruang penerimaan dokumen menerima cek dari pelanggan bersama dengan permintaan pembayaran. Dokumen ini berisi informasi utama yang diperlukan untuk akun pelanggan. Permintaan pembayaran merupakan conth dari dokumen perputaran yang biasanya adalah bagian dari faktur yang telah ditagihkan ke pelanggan. Ketika pembayaran dilakukan, pelanggan merobek bagian permintaan pembayaran dan mengembalikannya ke penjual bersama dengan pembayaran tunai.
·  Departemen Penerimaan Kas
Kasir memvertifikasi dan kelengkapan antara cek dengan permintaan pembayaran. Setiap cek yang hilang dan salah dikirimkan dari ruangan penerimaan dokumen dan departemen penerimaan kas diidentifikasi pada proses ini.
·  Departemen Piutang Dagang
Staf departemen piutang dagang melakukan proses pembukuan permintaan pembayaran pada akun pelanggan di buku besar pembantu piutang dagang. Setelah proses pembukuan, permintaan pembayaran disimpan untuk jejak audit. Pada akhir hari kerja staf departemen merangkum akun buku besar pembantu piutang dagang dan menyerahkan rangkumannya ke departemen buku besar umum.
·  Departemen Buku Besar
Secara berkala, departemen buku besar menerima voucher jurnal dari departemen penerimaan kas dan rangkuman akun dari departemen piutang dagang. Staf melakukan proses pembukuan dari voucher jurnal ke akun pengendali piutang dagang dan akun pengendali kas, merekonsiliasi aun pengendali piutang dagang dengan rangkuman buku besar pembantu piutang dagang, dan menyimpan voucher jurnal.
·  Departemen Kontroler
Secara berkala (mingguan atau bulanan), staf dari departemen kontroler (atau karyawan yang tidak terkait dengan prosedur penerimaan kas) mencocokkan penerimaan kas dengan membandingkan dokumen seperti : (1) salinan dari daftar permintaan pembayaran, (2) slip setoran bank yang diterima dari bank, (3) voucher jurnal dari departemen penerimaan kas dan departemen piutang dagang.


SUMBER : http://siadevelopment.blogspot.com/2012/04/siklus-pendapatan.html