Jumat, 19 April 2013

perdukunan dalam globalisasi


Perbincangan perdukunan kembali marak akhir-akhir ini menyangkut rancangan KUHAP dan KUHP yang memasukkan perdukunan, santet, dan zina dalam aturan baru tersebut. Kasus perdukunan dan santet memang tak bisa dilepaskan dari masyarakat kita, karena hampir selalu terjadi kasus melibatkan praktik perdukunan. Mengapa hal ini terus berlangsung? Berikut pembahasannya.
Banyak kasus perdukunan dipicu oleh kemiskinan, di samping arus modernitas yang sedemikian cepat membuat orang-orang lupa diri. Moralitas sudah sedemikian anjlok. Dukun menjadi alat pelarian sekaligus jalan pintas untuk menjadi kaya mendadak. Entah dengan memelihara tuyul, butho ijo, babi ngepet, dan lain sebagainya. Praktik semacam ini tetap termasuk kejahatan sebab merugikan pihak lain sebagai korbannya.
Ingin kaya, hidup enak, dan tanpa bersusah-payah itulah pemicu sebagian masyarakat kita yang terus percaya kepada klenik dan perdukunan. Sepintas hal itu adalah sesuatu yang alamiah sebagai manusia. Akan tetapi bila kita baca secara lebih cermat orang menggapai jalan pintas dengan jalan ke dukun atau paranormal sebenarnyamenunjukkan ketidakberdayaan masyarakat kita dalam menghadapi kerasnya hidup. Ketidaksiapan dan ketidaksanggupan menjadi orang susah dan mentalitas yang lemah menjadikan masyarakat kita begitu ringkih dan mudah terbuai dengan mimpi-mimpimegalomania yang sering ditawarkan para dukun palsu atau para pengganda uang“bohongan”. Akhirnya mereka sampai kepada kepasrahan yang tak bernalar.
Kita mungkin bisa saja menyalahkan pemerintah negeri ini yang selalu saja lupa dengan warganya yang hidup susah. Pemerintah lebih sibuk mengurusi bank-bank yang nyata-nyata sudah bangkrut, lebih suka bergaul dengan IMF, membiarkan para kuroptur lenggang kangkung jalan-jalan ke luar negeri, dan berbagai subsidi yang selalu salah sasaran.
Pembangunan yang tidak menyentuh sampai akarnya hanya menghasilkan kepiluan bagi rakyat kecil. Pembangunan hanya dapat diakses bagi mereka orang-orang berduit dan kaya raya. Bagi rakyat kecil nanti dulu. Mereka terus bergelut dengan pengusiran, penggusuran, dan akses ekomomi dan pekerjaan yang sempit.
Sekarang suap ada dimana-mana, ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau anggota Polri  misalnya kita sudah dimintai upeti puluhan juta rupiah. Lalu dari mana uang sebesar itu dalam benak rakyat kecil. Akhirnya hanya merekalah orang-orang berduit dan kaya yang punya akses kesitu. Akibatnya yang kaya semakin kaya yang miskin harus puas tetap miskin. Kemiskinan strukural semacam inilah penyakit yang terjadi di negeri ini. Lemahnya akses-akses pada sektor-sektor ekonomi dan pasar kerja menjadikan rakyat miskin mencari pelepasan yang keliru seperti menjadi pengedar narkoba, pencuri, penjambret, preman, penipuan, perdukunan, dan terjerumus pada pelacuran.
Menyakitkannya lagi wajah-wajah mereka tak henti-hentinya diekspose habis-habisan oleh media massa elektronik televisi dalam acara-acara kriminal. Wajah yang babak-belur dan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan aparat menjadi tontonan menarik nanekslusif untuk memenuhi dahaga komoditas. Sementara para koruptor kelas kakap negeri ini tetap nyaman dapat bernafas lega, masih bisa tersenyum dan tertawa-tawa. Padahal para pemirsa tahu para koruptorlah yang harus diekspose besar-besaran bukan justru pencuri sepeda yang ketangkap basah dan babak-belur dihakimi massa.
Rasa putus asa dan tak tahu ke mana harus mengadu membuat masyarakat bawah menjadi lahan empuk berbagai penipuan berkedok dukun. Para dukun itu  mengiming-imingi dapat mewujudkan apa saja keinginan yang diminta, tentu dengan mematuhi berbagai persyaratan. Secara nalar persyaratan itu tentu sangat aneh dan tak masuk akal seperti menyiapkan kembang setaman, ayam jago, bersemedi semalam suntuk pada sebuah sungai dan ritual-ritual lain yang membuat nyali kita ciut.
Dibalik euphoria globalisasi akhir-akhir ini dan riak gelombang generasi serba canggih yang hampir menyelimuti seluruh penjuru dunia. Nyatanya alam-alam irasional yang sulit dijangkau dengan akal sehat tetap saja subur dan menjadi tempat-tempat pelarian. Lebih lanjutnya praktek perdukunan saat ini telah bergerak kearah yang “menakutkan”. Bukan saja tempat untuk berkeluh kesah tentang hidup, cara mudah mencari rezeki, perjodohan, santet, dan cara mudah menduduki jabatan. Tapi telah bergerak kearah pemutarbalikkan dimensi ketuhanan (religiusitas).
Keimanan seseorang kepada yang Esa menjadi sia-sia dan seseorang telah mengalami degradasi moral yang demikian parah. Dalam hal ini nalar sudah tidak berarti lagi. Semua jurusan hidup ini semuanya hanya mengarah kepada nafsu rendah manusia, ingin kaya, hidup enak tanpa peduli dari mana harta itu diperoleh.
Merampok, membunuh, mencuri, dan menipu tiap hari kita saksikan di layar kaca televisi kita. Apakah perlu kita percaya kepada Nietzhe yang tidak percaya lagi kepada agama dan mengatakan Tuhan telah mati. Tentu tidak! Dari sinilah para pemimpin dan pemuka agama di negeri ini perlu mengambil peran sebagai oase ditengah-tengah masyarakat yang sedang sakit dan tak berdaya.
Masyarakat saat ini yang cenderung pragmatis dan segala sesuatu bermuara pada kesenangan (pleasure), hidup enak dan kaya. Sayangnya mereka tak mau hiduprekoso (kerja keras), tapi lebih banyak mengeluh dan lari ke praktik perdukunan dan klenik yang tentu saja tak perlu bersusah payah.
Negara punya tanggungjawab secara moral untuk memperbaiki watak bangsa ini yang semakin merosot dari segi moral. Pembukaan lapangan kerja dan pengurangan pengangguran menjadi tanggungjawab pemerintah dalam mensejahterakan warganya.
Singkatnya selama keinginan masyarakat untuk kaya mendadak tanpa berpeluh keringat belum juga mati, maka praktek irasional kaya mendadak akan tetap tumbuh subur di masyarakat.


sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/03/30/marak-ke-dukun-inilah-jawabannya-541619.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar